Mahakaryanews.my.id , TULUNGAGUNG – Di balik tenangnya suasana bulan Suro, sebuah tradisi yang telah hidup selama ratusan tahun kembali dijalankan di Tulungagung. Di Griya Dalem Kanjengan Kepatihan, Tombak Pusaka Kanjeng Kyai Upas kembali dijamas dalam sebuah prosesi yang sarat makna dan penuh penghormatan kepada warisan leluhur.
Bagi masyarakat Tulungagung, jamasan bukan sekadar membersihkan pusaka. Ritual ini menjadi simbol bahwa sejarah harus terus dirawat, sebagaimana nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Satu per satu tahapan prosesi dilakukan dengan penuh ketelitian dan kekhidmatan. Doa-doa dipanjatkan, pusaka dibersihkan menggunakan tata cara yang telah diwariskan turun-temurun, sementara para sesepuh, tokoh budaya, dan masyarakat mengikuti jalannya ritual dengan penuh penghormatan.
Tombak Kanjeng Kyai Upas sendiri bukan sekadar benda bersejarah. Pusaka ini telah lama menjadi simbol identitas Tulungagung. Berbagai kisah dan tradisi lisan yang menyertainya terus hidup di tengah masyarakat, menjadikannya bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan sejarah daerah.
Di balik prosesi jamasan, tersimpan filosofi tentang penyucian diri, rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta harapan agar masyarakat senantiasa diberikan keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan.
Di tengah perubahan zaman, tradisi ini menjadi pengingat bahwa sebuah daerah tidak hanya dibangun oleh kemajuan, tetapi juga oleh kemampuannya menjaga akar budaya. Sebab, ketika warisan leluhur terus dirawat, maka jati diri sebuah daerah akan tetap hidup dan dikenang oleh generasi-generasi yang akan datang.